Krioterapi Lesi Prakanker Serviks Perdana Dilaksanakan di Puskesmas Simpong
Skrining HPV DNA dan IVA tersedia gratis di seluruh puskesmas, diperkuat jejaring konsultasi, tindak lanjut, krioterapi, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan.

BANGGAI, SULAWESI TENGAH — Kabupaten Banggai mencatat langkah penting dalam upaya pencegahan kanker leher rahim melalui pelaksanaan krioterapi lesi prakanker serviks untuk pertama kalinya di Kabupaten Banggai, yang dipusatkan di Puskesmas Simpong.
Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pencegahan sekunder kanker serviks, sehingga pelayanan kesehatan tidak berhenti pada skrining dan menemukan kelainan, tetapi dilanjutkan dengan evaluasi dan penanganan yang tepat sebelum lesi prakanker berpotensi berkembang menjadi kanker invasif.
Kegiatan mendapat dukungan Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai dan turut dihadiri Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, Nur Datuadam, Kepala Puskesmas Simpong Sumiatry Yanti Emping, SKM, jajaran tenaga kesehatan, serta perwakilan BPJS Kesehatan Kabupaten Banggai.
Tindakan krioterapi dilakukan oleh dr. Christofer J.L. Ladja, M.Kes., Sp.OG., M.H., FICS, dokter spesialis obstetri dan ginekologi sekaligus inisiator program edukasi MALEO (Masyarakat Awas Lesi Serviks, Edukasi dan Optimalisasi Pencegahan), yang saat ini sedang menjalani pendidikan khusus/subspesialisasi Onkologi Ginekologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Skrining HPV DNA dan IVA Gratis di Seluruh Puskesmas
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, Nur Datuadam, menjelaskan bahwa pelayanan deteksi dini kanker serviks telah tersedia di seluruh wilayah Kabupaten Banggai.
Saat ini, seluruh puskesmas di Kabupaten Banggai dapat melaksanakan pemeriksaan HPV DNA dan IVA secara gratis, sehingga perempuan dapat memperoleh pelayanan skrining melalui fasilitas kesehatan yang paling dekat dengan tempat tinggalnya.
Hasil pemeriksaan yang positif atau membutuhkan penilaian lebih lanjut dapat dikonsultasikan kepada dr. Christofer J.L. Ladja, Sp.OG untuk membantu menentukan tindak lanjut sesuai kondisi klinis pasien.
Apabila diperlukan pemeriksaan atau terapi di rumah sakit, pasien akan diarahkan untuk mendapatkan pelayanan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi sesuai indikasi. Sementara itu, pasien dengan lesi prakanker yang memenuhi kriteria krioterapi dapat diarahkan ke Puskesmas Simpong.
Dengan alur tersebut, program diharapkan tidak hanya meningkatkan jumlah perempuan yang mengikuti skrining, tetapi memastikan perempuan dengan hasil abnormal memperoleh tindak lanjut yang tepat dan tidak terputus dari pelayanan kesehatan.

Puskesmas Simpong Menjadi Pusat Pelayanan Krioterapi
Untuk tahap awal, pelayanan krioterapi lesi prakanker serviks dipusatkan di Puskesmas Simpong, yang telah memiliki alat krioterapi bantuan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia serta didukung tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan.
Pada saat kegiatan berlangsung, BPJS Kesehatan Kabupaten Banggai turut melakukan visitasi terhadap kesiapan penggunaan alat dan pelayanan krioterapi. Visitasi ini menjadi bagian penting dalam proses penguatan pelayanan agar krioterapi dapat terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan dan, setelah memenuhi persyaratan serta ketentuan yang berlaku, dapat dijamin melalui mekanisme pelayanan BPJS Kesehatan.
Dengan penguatan tersebut, ke depan pasien dengan lesi prakanker serviks dari berbagai wilayah Kabupaten Banggai yang memenuhi kriteria diharapkan dapat memperoleh penanganan di Puskesmas Simpong oleh dokter dan bidan yang telah memiliki kompetensi sesuai kewenangan dan standar pelayanan.
Hal ini menjadi penting karena akses terapi yang lebih dekat dengan masyarakat dapat mengurangi keterlambatan penanganan serta risiko pasien dengan hasil skrining positif tidak melanjutkan pemeriksaan atau terapi.
Pasien Berasal dari Jejaring Beberapa Puskesmas
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan mulai terbentuknya jejaring pelayanan antar-puskesmas di Kabupaten Banggai.
Pasien dengan hasil IVA positif yang mendapatkan pelayanan pada kegiatan tersebut berasal dari Puskesmas Tangeban, Puskesmas Kampung Baru, dan Puskesmas Simpong.
Dengan demikian, Puskesmas Simpong tidak hanya melayani masyarakat di wilayah kerjanya sendiri, tetapi secara bertahap diharapkan dapat berperan sebagai salah satu fasilitas rujukan pelayanan lesi prakanker serviks bagi pasien dari puskesmas lain yang belum memiliki sarana krioterapi.
Konsep pelayanan tersebut diharapkan membentuk jejaring yang sederhana tetapi efektif: perempuan dapat melakukan skrining di puskesmas terdekat, sedangkan pasien yang membutuhkan tindakan dapat diarahkan ke fasilitas yang memiliki tenaga dan peralatan yang sesuai.
Selanjutnya: Pembinaan Puskesmas Tangeban, Toili II, dan Toili III
Penguatan pelayanan tidak akan berhenti di Puskesmas Simpong.
Pada kesempatan berikutnya, dr. Christofer J.L. Ladja juga direncanakan melakukan pembinaan dan pelayanan terkait deteksi serta penanganan lesi prakanker serviks di Puskesmas Tangeban, Puskesmas Toili II, dan Puskesmas Toili III.
Pembinaan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan tenaga kesehatan di masing-masing puskesmas dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, melakukan skrining, mengenali hasil abnormal, menentukan kebutuhan konsultasi atau rujukan, serta memastikan pasien mendapatkan tindak lanjut yang sesuai.
Pengembangan jejaring ini juga diharapkan menjadi langkah menuju pemerataan pelayanan. Ke depan, pelayanan penanganan lesi prakanker diharapkan tidak hanya tersedia di satu tempat, tetapi secara bertahap dapat dikembangkan pada puskesmas lain yang memenuhi persyaratan sarana, sumber daya manusia, kompetensi, dan keselamatan pelayanan.

Bukan Hanya Pelayanan Pasien, tetapi Juga Transfer Pengetahuan
Selain memberikan pelayanan langsung kepada pasien, kegiatan di Puskesmas Simpong menjadi momentum sharing ilmu dan penyegaran (refreshing) bagi dokter umum dan bidan.
Tenaga kesehatan mendapatkan penguatan kembali mengenai deteksi dini kanker serviks, pengenalan lesi prakanker, penilaian hasil skrining, pemilihan pasien yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut, prinsip krioterapi, tindak lanjut pascatindakan, hingga sistem rujukan apabila ditemukan kecurigaan keganasan.
Hal ini penting karena dokter umum dan bidan di puskesmas merupakan ujung tombak pencegahan kanker serviks di masyarakat.
Pendekatan yang ingin diperkuat adalah prinsip “see and treat”, yaitu memperpendek jarak antara ditemukannya kelainan yang memenuhi kriteria dengan pemberian terapi yang tepat. Dengan pendekatan ini, pasien yang telah melalui penilaian dan memenuhi kriteria tindakan diharapkan dapat memperoleh penanganan sesegera mungkin, tanpa kehilangan kesempatan akibat kunjungan berulang yang tidak diperlukan.
Penerapan pendekatan tersebut tetap memperhatikan kriteria kelayakan tindakan, kompetensi tenaga kesehatan, keselamatan pasien, serta rujukan apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.
“Kita tidak ingin kegiatan ini hanya menjadi satu hari pelayanan. Yang juga sangat penting adalah transfer pengetahuan kepada dokter dan bidan di puskesmas. Mereka adalah ujung tombak yang setiap hari bertemu langsung dengan masyarakat. Harapannya, pelayanan deteksi dini dan penanganan lesi prakanker dapat semakin dekat dengan perempuan Banggai,” ujar dr. Christofer.
Puskesmas Simpong Siap Mengembangkan Layanan Unggulan
Kepala Puskesmas Simpong, Sumiatry Yanti Emping, SKM, menyambut baik pengembangan pelayanan tersebut.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Ke depan, pelayanan krioterapi diharapkan dapat menjadi salah satu layanan unggulan di Puskesmas Simpong, sekaligus meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi perempuan. Pelayanan ini juga menjadi bagian dari upaya mempercepat deteksi dini dan penanganan lesi prakanker serviks, yang pada akhirnya kita harapkan dapat berkontribusi terhadap penurunan kasus kanker serviks di masyarakat,” ujar Sumiatry Yanti Emping, SKM.
Ia berharap setelah pelayanan berjalan optimal dan berkesinambungan, fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat Kabupaten Banggai.
Lesi Prakanker Bukan Kanker Serviks
Salah satu pesan utama kegiatan ini adalah meluruskan pemahaman masyarakat bahwa lesi prakanker serviks bukanlah kanker leher rahim.
Lesi prakanker merupakan perubahan abnormal pada sel-sel leher rahim yang pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kanker apabila menetap dan tidak mendapatkan evaluasi serta penanganan yang tepat.
Demikian pula, HPV DNA positif tidak otomatis berarti seorang perempuan menderita kanker serviks.
Hasil skrining yang positif memerlukan penilaian lebih lanjut untuk menentukan apakah pasien memerlukan pemantauan, pemeriksaan lanjutan, terapi lesi prakanker, atau rujukan.
Krioterapi merupakan salah satu metode ablasi yang dapat digunakan pada lesi prakanker tertentu yang memenuhi kriteria. Apabila terdapat kecurigaan kanker invasif, pasien memerlukan pemeriksaan diagnostik dan rujukan lebih lanjut.
Karena itu, perempuan tidak perlu takut atau merasa telah menderita kanker ketika mendapatkan hasil skrining abnormal. Justru ditemukannya kelainan pada tahap prakanker memberikan kesempatan untuk melakukan intervensi sebelum berkembang menjadi kanker invasif.
MALEO: Edukasi dan Dukungan Keluarga Sama Pentingnya
Melalui program MALEO – Masyarakat Awas Lesi Serviks, Edukasi dan Optimalisasi Pencegahan, dr. Christofer menekankan bahwa ketersediaan alat dan tenaga kesehatan saja belum cukup.
Edukasi yang baik dan kesadaran perempuan untuk melakukan pemeriksaan menjadi bagian yang sangat penting. Demikian pula dukungan suami, keluarga, teman, dan lingkungan.
Perempuan yang melakukan skrining bukan berarti sedang menderita kanker. Sebaliknya, melakukan skrining merupakan bentuk kepedulian terhadap kesehatan diri sendiri dan keluarga.
Suami dan keluarga dapat mengambil peran sederhana tetapi penting: memberikan motivasi, tidak memberikan stigma, membantu akses ke fasilitas kesehatan, mengingatkan jadwal pemeriksaan, dan mendampingi ketika diperlukan.
Membangun Pelayanan Terintegrasi dari Desa hingga Rumah Sakit
Penguatan program di Kabupaten Banggai diharapkan membentuk kesinambungan pelayanan:
Edukasi masyarakat → Skrining HPV DNA/IVA gratis di puskesmas → Identifikasi hasil positif → Konsultasi dan evaluasi → “See and Treat” pada pasien yang memenuhi kriteria → Krioterapi di fasilitas yang siap → Rujukan ke Sp.OG/rumah sakit apabila diperlukan → Pemantauan dan skrining ulang.
Keberhasilan program dengan demikian tidak hanya diukur dari banyaknya perempuan yang diperiksa, tetapi dari kemampuan sistem memastikan setiap perempuan dengan hasil skrining abnormal memperoleh tindak lanjut sampai tuntas.
Harapan: Menurunkan Kanker Serviks dan Mewujudkan Perempuan Banggai yang Sehat
Menutup kegiatan tersebut, dr. Christofer berharap langkah yang dimulai di Puskesmas Simpong dapat berkembang menjadi gerakan pencegahan kanker serviks yang berkelanjutan di seluruh Kabupaten Banggai.
“Ke depan, dengan adanya kegiatan ini, kita berharap angka kejadian kanker leher rahim di Kabupaten Banggai dapat terus menurun. Kita ingin semakin banyak perempuan melakukan deteksi dini dan mendapatkan penanganan yang tepat sebelum kelainan berkembang menjadi kanker,” ujar dr. Christofer J.L. Ladja, M.Kes., Sp.OG., M.H., FICS.
“Harapan kita adalah menciptakan perempuan Banggai yang sehat. Jangan menunggu munculnya keluhan baru datang memeriksakan diri. Mari membangun budaya pencegahan, karena mencegah lebih baik daripada mengobati,” lanjutnya.
Kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banggai, Dinas Kesehatan, BPJS Kesehatan, puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, serta masyarakat diharapkan menjadi fondasi pelayanan pencegahan kanker serviks yang semakin mudah dijangkau, berkualitas, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Perjuangan melawan kanker serviks tidak harus dimulai ketika seorang perempuan sudah datang dengan kanker stadium lanjut.
Perjuangan itu dapat dimulai jauh lebih awal—dari edukasi, keberanian melakukan skrining, menemukan lesi prakanker, dan memberikan penanganan yang tepat sebelum berkembang menjadi kanker.
MALEO
Masyarakat Awas Lesi Serviks, Edukasi dan Optimalisasi Pencegahan
Small Action, Big Impact.
“Satu langkah kecil untuk skrining, satu harapan besar untuk mewujudkan perempuan Banggai yang sehat.”









Tinggalkan Balasan