Oleh: Herfin Andalusya Ervina Kupagan
Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat
Universitas Tompotika Luwuk
⦁ Potret Permasalahan
Pelayanan kegawatdaruratan merupakan bagian penting dari sistem kesehatan. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sistem pelayanan kegawatdaruratan yang terorganisasi dengan baik berperan dalam menurunkan angka kematian dan kecacatan akibat trauma, penyakit akut, komplikasi obstetri, serta kondisi kritis lainnya. Di Indonesia, pelayanan UGD menjadi salah satu pelayanan esensial di Puskesmas yang harus didukung oleh sumber daya manusia yang kompeten, sarana prasarana yang memadai, tata kelola pelayanan yang baik, serta peningkatan mutu secara berkelanjutan sebagaimana diamanatkan dalam Permenkes Nomor 19 Tahun 2024.
Provinsi Sulawesi Tengah memiliki 219 Puskesmas operasional, sedangkan Kabupaten Banggai memiliki 27 Puskesmas yang berperan sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam memberikan pelayanan kegawatdaruratan bagi masyarakat sebelum dirujuk ke rumah sakit. Kondisi geografis yang luas menjadikan pelayanan UGD Puskesmas memiliki peran strategis dalam menjamin akses pelayanan kesehatan yang cepat dan berkesinambungan.
Salah satu Puskesmas yang berperan dalam pelayanan tersebut adalah Puskesmas Toili 2 yang menyelenggarakan pelayanan UGD selama 24 jam. Dalam beberapa tahun terakhir, Puskesmas Toili 2 terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan melalui sistem kerja tiga shift, penguatan koordinasi pelayanan, dan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Upaya tersebut diikuti dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat yang tercermin dari kenaikan jumlah kunjungan pasien UGD secara konsisten, yaitu dari 1.630 kunjungan pada tahun 2023 menjadi 2.230 kunjungan pada tahun 2024, dan meningkat menjadi 4.630 kunjungan pada tahun 2025.
Peningkatan jumlah kunjungan tersebut menjadi indikator positif bagi pemanfaatan layanan, namun sekaligus menuntut penguatan manajemen sumber daya agar kapasitas pelayanan tetap sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan pengelolaan sumber daya manusia, sarana prasarana, logistik, dan sistem pelayanan untuk menjaga mutu pelayanan UGD di Puskesmas Toili 2 secara berkelanjutan.
⦁ Analisis Situasi
Data pelayanan menunjukkan bahwa jumlah kunjungan pasien meningkat dari 1.630 pasien pada tahun 2023 menjadi 2.230 pasien pada tahun 2024, atau meningkat sebesar 36,8%. Pada tahun 2025 jumlah kunjungan kembali meningkat menjadi 4.630 pasien, atau meningkat 107,6% dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan kunjungan pasien UGD Puskesmas Toili 2 dari 1.630 pasien pada tahun 2023 menjadi 4.630 pasien pada tahun 2025 menunjukkan meningkatnya pemanfaatan layanan dan kepercayaan masyarakat. Di sisi lain, kondisi ini meningkatkan beban pelayanan yang harus diimbangi dengan penguatan manajemen sumber daya agar mutu pelayanan tetap terjaga.
Pelayanan UGD didukung oleh 4 dokter, 13 perawat UGD, dan 13 perawat rawat inap yang bekerja dengan sistem rotasi bulanan dan tiga shift selama 24 jam. Meningkatnya jumlah pasien menyebabkan beban kerja tenaga kesehatan semakin tinggi sehingga diperlukan evaluasi kebutuhan SDM berbasis beban kerja serta peningkatan kompetensi petugas dalam penanganan kegawatdaruratan.
Peningkatan volume pelayanan juga berdampak pada tingginya penggunaan sarana, peralatan medis, dan bahan medis habis pakai. Selain itu, peningkatan jumlah pasien menuntut pengelolaan logistik, pemeliharaan peralatan, serta evaluasi alur pelayanan dan koordinasi antarpetugas agar pelayanan tetap cepat, efektif, dan aman.
Secara keseluruhan, tantangan utama Puskesmas Toili 2 bukan terletak pada kualitas pelayanan, melainkan pada penyesuaian kapasitas manajemen sumber daya terhadap peningkatan beban pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengelolaan SDM, sarana prasarana, logistik, dan sistem pelayanan secara berkelanjutan untuk mempertahankan mutu pelayanan UGD.
⦁ Penelitian Sebelumnya
No Peneliti/Tahun Fokus Penelitian Metode Temuan Utama
1 Aiken et al. (2014) Beban kerja perawat dan mutu pelayanan Retrospective observational study Rasio tenaga perawat yang memadai berhubungan dengan penurunan mortalitas pasien dan peningkatan mutu pelayanan.
2 Griffiths et al. (2018) Staffing perawat dan keselamatan pasien Systematic Review Kekurangan tenaga perawat meningkatkan risiko luaran pasien yang buruk dan menurunkan kualitas pelayanan.
3 World Health Organization (2010) WISN untuk perencanaan SDM kesehatan Pedoman berbasis implementasi Metode WISN membantu menentukan kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja nyata sehingga meningkatkan efisiensi pelayanan.
4 Nyamtema et al. (2022) Implementasi WISN pada fasilitas pelayanan kesehatan Mixed methods WISN efektif untuk mengidentifikasi kekurangan tenaga kesehatan dan menjadi dasar redistribusi SDM.
5 Kroezen et al. (2021) Manajemen SDM kesehatan di pelayanan primer Systematic Review Penguatan manajemen SDM meningkatkan kinerja organisasi dan mutu pelayanan kesehatan primer.
Hasil sintesis dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas sangat dipengaruhi oleh kesiapan manajemen sumber daya. Permasalahan yang paling sering ditemukan meliputi keterbatasan tenaga kesehatan, peningkatan beban kerja, pengelolaan sarana dan logistik yang belum optimal, keterbatasan anggaran, serta perlunya penguatan koordinasi dan sistem pelayanan. Temuan tersebut sejalan dengan kondisi Puskesmas Toili 2 yang mengalami peningkatan kunjungan pasien UGD secara signifikan dalam tiga tahun terakhir. Oleh karena itu, penguatan manajemen sumber daya menjadi strategi yang penting untuk menjaga mutu pelayanan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memastikan pelayanan kegawatdaruratan tetap berjalan secara optimal.
⦁ Analisis Akar Masalah (Fishbone 5M)
Analisis Fishbone (5M) menunjukkan bahwa secara keseluruhan, hasil analisis menunjukkan bahwa peningkatan beban pelayanan UGD tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pasien yang terus bertambah, tetapi juga oleh kebutuhan penyesuaian pada seluruh komponen manajemen.
Oleh karena itu, diperlukan penguatan manajemen sumber daya secara terintegrasi untuk menjaga mutu pelayanan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memastikan pelayanan kegawatdaruratan tetap berjalan secara optimal
.
⦁ Analisis Kesenjangan
Aspek Kondisi Eksisting Kondisi yang Diharapkan
Kunjungan pasien Kunjungan UGD meningkat dari 1.630 (2023) menjadi 4.630 pasien (2025). Kapasitas pelayanan mampu mengimbangi peningkatan jumlah pasien.
Sumber daya manusia Pelayanan didukung oleh 4 dokter dan 13 perawat UGD dengan sistem tiga shift. Perencanaan kebutuhan SDM dievaluasi secara berkala berdasarkan analisis beban kerja (WISN/Analisis Jabatan).
Sistem pelayanan UGD beroperasi 24 jam dengan pelayanan berkelanjutan. Alur pelayanan dan distribusi tenaga terus disesuaikan dengan peningkatan volume pasien.
Sarana dan peralatan Sarana dan peralatan digunakan untuk mendukung pelayanan yang terus meningkat. Pemenuhan, pemeliharaan, dan pengembangan sarana dilakukan sesuai kebutuhan pelayanan.
Manajemen pelayanan Pengelolaan pelayanan telah berjalan sesuai fungsi UGD Puskesmas. Penguatan manajemen sumber daya dilakukan secara terintegrasi untuk menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Analisis kesenjangan menunjukkan bahwa tantangan utama Puskesmas Toili 2 bukan terletak pada kemampuan menyelenggarakan pelayanan UGD, melainkan pada kebutuhan penyesuaian kapasitas manajemen sumber daya terhadap peningkatan beban pelayanan. Oleh karena itu, penguatan perencanaan SDM berbasis beban kerja, optimalisasi sarana dan logistik, serta evaluasi sistem pelayanan menjadi langkah strategis untuk mempertahankan mutu pelayanan di masa mendatang.
⦁ Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan kajian ilmiah terkait dengan masalah, maka ada beberapa rekomendasi kebijakan yaitu sebagai berikut:
⦁ Melakukan evaluasi kebutuhan SDM berbasis beban kerja melalui metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) atau Analisis Jabatan sebagai dasar perencanaan dan distribusi tenaga kesehatan di UGD.
⦁ Mengoptimalkan sistem pelayanan UGD dengan menyesuaikan alur pelayanan, pembagian tugas, dan pengaturan jadwal kerja pada setiap shift agar pelayanan tetap efektif dan responsif terhadap peningkatan kunjungan pasien.
⦁ Memperkuat pemenuhan sarana, peralatan medis, dan logistik berdasarkan tren kunjungan pasien melalui perencanaan kebutuhan, pemeliharaan peralatan, dan pengelolaan bahan medis habis pakai secara berkelanjutan.
⦁ Meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan melalui pelatihan, pembinaan, dan pengembangan kapasitas secara berkala dalam penanganan kegawatdaruratan, keselamatan pasien, dan komunikasi efektif.
⦁ Melaksanakan monitoring dan evaluasi mutu pelayanan UGD secara berkala menggunakan indikator kinerja utama, seperti jumlah kunjungan, waktu tanggap pelayanan, beban kerja tenaga kesehatan, dan kepuasan pasien sebagai dasar perbaikan berkelanjutan.
⦁ Memperkuat kolaborasi antara Puskesmas Toili 2 dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai dalam perencanaan SDM, penguatan anggaran, penyediaan sarana prasarana, serta pembinaan teknis untuk mendukung keberlanjutan peningkatan mutu pelayanan.
⦁ Daftar Pustaka
Aiken, L. H., Sloane, D. M., Bruyneel, L., et al. (2014). Nurse staffing and education and hospital mortality in nine European countries: A retrospective observational study. The Lancet, 383(9931), 1824-1830. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)62631-8
Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai. (2024). Profil Kesehatan Kabupaten Banggai Tahun 2023. Luwuk: Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai.
Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. (2025). Profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah Tahun 2024. Palu: Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah.
Griffiths, P., Maruotti, A., Recio Saucedo, A., et al. (2018). Nurse staffing, nursing assistants and hospital mortality: Retrospective longitudinal cohort study. BMJ Quality & Safety, 28(8), 609-617. https://doi.org/10.1136/bmjqs-2018-008043
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Satu Data Bidang Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kroezen, M., Van Hoegaerden, M., & Batenburg, R. (2021). The joint action on health workforce planning and forecasting: Results of a European programme to improve health workforce policies. Health Policy, 125(2), 161-167.
Nyamtema, A. S., et al. (2022). Application of the Workload Indicators of Staffing Need (WISN) method in health workforce planning: A mixed-methods study. (Silakan verifikasi detail jurnal sebelum digunakan, karena terdapat beberapa publikasi WISN dengan penulis serupa.)
World Health Organization. (2010). Workload Indicators of Staffing Need (WISN): User’s Manual. Geneva: WHO.
World Health Organization. (2021). Quality Health Services: A Planning Guide. Geneva: World Health Organization.









Tinggalkan Balasan